Hikmah

Posted: 15 Juli 2012 in Uncategorized

Iman tak menjaminmu tuk selalu berlimpah & tertawa. Tapi ia menjaminmu merasakan lembut elusan cintaNya; pada apapun dera nan menimpa. @salimafillah

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

“MENJADI KAYA YANG BERKAH & DICINTAI ALLAH”
Cinta Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) kpd hamba-Nya tidak tergantung pd keadaan miskin atau kaya. Banyak orang miskin yg dicintai Allah SWT, demikian juga banyak orang kaya yg menjadi kekasih-Nya.

Kekayaan boleh jadi pula menjadi perantara menjadikan kita sebagai hamba yang dimuliakan Allah SWT. Baginda Nabi saw bersabda : “Harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi ketaqwaan kpd Allah.” (HR. Ad-Dailami). Baginda Nabi saw bersabda : “Pada akhir zaman kelak manusia harus menyediakan hartanya untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya.” (Riwayat Ath-Thabrani)

Kekayaan seperti apa yg harus kita bangun?
KRITERIA KAYA :

Pertama, kaya secara fisik. Kesehatan merupakan kekayaan yg tak ternilai.
Kedua, kekayaan secara finansial. seseorang dpt disebut kaya secara finansial jika total aset yg dimiliknya (rumah, kendaraan, tabungan, peralatan, dsb) melebihi total hutangnya. Pendapatannya harus meningkat; rasio kekayaannya lebih dari satu.
Ketiga, kekayaan secara mental (character building). Ini berkaitan “siapa” menguasai “siapa”. Jika bertambahnya uang (kekayaan) menjadikan kita sombong, maka kita dikuasai oleh uang (kekayaan). Demikian juga bertambahnya uang membuat kita malas bekerja.

Tips menjadi orang kaya yg berkah & dicintai Allah SWT: 

1. Miliki Ilmunya. Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan orang2 yg beriman diantaramu dan orang2 yg diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat,” (QS. Al-Mujadilah : 11)

2. Bekerjalah yg keras. “Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yg telah diusahakannya,” (QS. An-Najm: 39)

3. Tinggalkan gaya hidup boros dan bermewah-mewah. “Jangan kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros, sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara syaithan. Dan syaithan itu sangat ingkar kepada Tuhannya,” (QS. Al-Isra’ : 26-27)

4. Menabunglah untuk pengeluaran yg akan datang. Keperluan hidup seseorang tidak hanya sebatas hari ini saja. untuk menikah, kelahiran anak dan pendidikannya, berzakat, menunaikan ibadah haji, masa tua dsb.

5. Berta’awwun (tolong-menolong) dg orang lain, khususnya dg sesama muslim. “Dan tolong-menolonglah kamu dlm (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dlm berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya amat berat siksa-Nya,”
(QS. Al-Maidah : 2)

6. Terimalah pemberian Allah dg sikap ridho.
Rasulullah saw bersabda : “Jagalah dirimu dari perkara-perkara yang haram niscaya engkau menjadi manusia yg paling ‘abid, dan terimalah dg penuh kerelaan akan pembagian yg telah ditentukan Allah kepadamu niscaya engkau akan menjadi manusia yg paling kaya.” (Riwayat Imam Ahmad)

7. Selalu berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kebaikan kehidupan dunia yg sekaligus berbuah kebaikan bagi akhirat kita. Bermunajatlah, “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (QS. Al-Baqarah : 201)

Disarikan dari koleksi pustaka, Majalah Hidayatullah, Nov 2007.

Haji Mabrur, Jihad yang Afdhol

Posted: 18 Oktober 2012 in Uncategorized

Haji Mabrur, Jihad yang Afdhol

Ketahuilah, haji mabrur adalah jihad yang afdhol. Buktinya adalah dari penjelasan hadits-hadits berikut ini. Semoga bermanfaat dan semakin mendapat spirit dan lebih interested untuk berhaji.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama (afdhol) adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Ash Shubayy bin Ma’bad berkata, “Dulu aku adalah seorang Nashrani dan sekarang aku  masuk Islam. Aku pernah bertanya pada sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, manakah yang lebih afdhol, jihad ataukah haji? Mereka katakan, “Haji itu lebih utama.”[1] Ketika mengomentari perkataan ini, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud, haji itu bisa lebih utama bagi orang yang belum pernah berhaji sama sekali seperti orang yang baru saja masuk Islam ini. Bisa pula yang dimaksud dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa jihad dilihat dari jenisnya itu lebih utama dari haji dilihat dari jenisnya. Jika haji itu memiliki keistimewaan dari jihad yaitu karena haji itu dikatakan fardhu ‘ain (bagi yang mampu), maka haji seperti ini menjadi lebih utama dari jihad. Jika tidak sampai haji itu fardhu ‘ain, maka jihad itu lebih afdhol.”[2]

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits dikatakan bahwa jihad itu lebih utama dari haji. Ini yang terjadi di awal Islam dan ketika terjadi banyak peperangan. Ketika itu hukum jihad adalah fardhu ‘aihn.

Adapun jika Islam semakin jaya, maka hukum jihad menjadi fardhu kifayah. Ketika inilah haji dikatakan lebih afdhol.”[3]

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Haji disebut jihad karena di dalam amalan tersebut terdapat mujahadah (jihad) terhadap jiwa.”[4]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Haji dan umroh termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan. Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, ‘Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam shalat, terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya pula dengan puasa. Sedangkan dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdhol’.”[5]

Inilah yang menunjukkan keutamaan haji, yaitu haji yang mabrur. Sungguh mulia sekali jika seseorang mampu menunaikannya di saat memiliki kemampuan. Jihad tentu saja memang butuh perjuangan. Di negeri kita, mungkin saja harus mengantri sampai bertahun-tahun, ada yang bisa sampai 10 tahun untuk bisa berangkat haji. Inilah jihad, inilah perjuangan, inilah mujahadah. Butuh kesabaran. Butuh perjuangan. Butuh menghadapi kerasnya iklim haji, dengan cuaca yang terik, bersesakkan dan sebagainya. Semua ini bisa semakin mudah dengan ‘iyanah dan pertolongan Allah ketika ingin dan sedang menunaikannya. Tentu saja jihad haji ini dijalani dengan jalan yang benar, ikuti aturan yang benar. Misalnya seperti di Saudi, harus memenuhi syarat tasyrih (izin haji), yah sudah seharusnya dipenuhi. Karena sebaik-baik muslim adalah yang taat pada aturan penguasa. Hanya Allah yang beri taufik.

Ya Allah, mudahkanlah kami semua untuk menunaikan haji yang afdhol ini dengan segala kemudahan.

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahlaa, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlaa” [artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah].[6]

 

[1] Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 400.

[2] Idem.

[3] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 7/220

[4] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 3/382.

[5] Lathoif Al Ma’arif, hal. 403.

[6] Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Abi ‘Umar, Ibnus Suni dalam ‘Amal Yaum wal Lailah. (Lihat Jaami’ul Ahadits, 6/257, Asy Syamilah)

Ciri-ciri Wanita Shalihah

Posted: 18 Oktober 2012 in MADANIYA GALLERY

Ciri-ciri Wanita Shalihah
Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah“. (HR. Muslim)
Terus, seperti apa ciri-ciri wanita shalihah itu…?
Pertama: Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah SWT,  ketaatannya melebihi kepada apapun yang mesti ditaati.
Kedua: Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah SWT.
Ketiga: Ia senantiasa menjadikan al-Qur’an dan al-hadits sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
Keempat: Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi pekerti yang mulia.
Kelima: Tidak hobi berdusta, bergunjing, dan riya’.
Keenam: Berbuat baik dan berbakti kepada orang tua dan mertuanya. Ia senantiasa mendo’akan mereka, menghormati, menjaga dan melindungi mereka.
Ketujuh: Taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya dan mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami.
Kedelapan: Jika dilihat menyenangkan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah), serta hati akan tenang bila meninggalkan ketika pergi.
Kesembilan: Melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotivasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah SWT.
Kesepuluh: Ia tidak gemar bermewah-mewah dengan dunia, Tawadhu’ dan bersikap sederhana.
Kesebelas: Memiliki kesabaran luarbiasa atas janji-janji Allah SWT. Ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
Mulialah wanita shalihah, di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan.
Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga.

Jagalah Shalat!

Posted: 18 Oktober 2012 in Uncategorized

Jagalah Shalat!

Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنـه berkata, “Memenuhi telinga anak cucu Adam dgn cairan timah panas lebih baik daripada jika ia mendengar adzan, namun tidak menjawab panggilannya”

Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda tentang tafsir wahyu اَللّهُ سبحانه وتعالى, “Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu” (QS. Ali Imran, 3;133)
Ampunan yg dimaksud adalah Takbirotul Ihrom yg diucapkan segera setelah Takbirotul Ihrom Imam.

Ketahuilah, smoga اَللّهُ سبحانه وتعالى memberi qta Taufiq dan Hidayah, sesungguhnya qta wajib memerintahkan isteri dan anak² qta untuk menunaikan dan memelihara shalat, karena anggota keluarga qta adalah amanat yg dititipkan اَللّهُ سبحانه وتعالى kepada qta..

Dan اَللّهُ سبحانه وتعالى mewahyukan, “Hai orang² yg beriman, janganlah kalian mengkhianati اَللّهُ dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati amanat² yg dipercayakan kepada kalian sedangkan kalian mengetahui” (QS. Al-Anfal, 8;27)

Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم bersabda, “اَللّهُ… اَللّهُ… (Hati²) terhadap wanita, karena sesungguhnya mereka adalah amanat (yg dipercayakan اَللّهُ) kepada kalian”

Barangsiapa tidak memerintahkan & mengajar isterinya mengerjakan shalat, maka ia telah mengkhianati اَللّهُ dan Rasul-Nya. Ia berhak disiksa dan diberi balasan paling buruk. Ia termasuk ke dalam kelompok orang celaka yg disebutkan dalam sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم tentang lima orang yg dimurkai اَللّهُ, dan mereka akan menghuni Neraka. Salah satu diantara orang yg dimurkai اَللّهُ adalah orang yg tidak memerintahkan isteri dan anak²nya untuk mengerjakan shalat.

أسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظيْم وأتوبُ إليہ

(“Shalatul Muqorrobin” & “Majmu’ Washaya”, Sayyidinal Imam, Al-Quthb, Sayyid Hasan bin Shaleh Al-Bahr Al-Jufri رضي الله عنـه”)… Wallahualam bishowab…

Share from:
Arafah Berbagi Community

Gambar

10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Rasulullah saw bersabda, “Bahwa tidak ada amalan manusia pada hari raya adha yang lebih dicintai Allah SWT, selain mengalirkan darah hewan (maksudnya : menyembelih hewan qurban)” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)

1.    Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang mulia dan barakah

Bukti kemuliaan ini adalah sumpah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an al-Karim.

 Demi fajar, dan malam yang sepuluh (QS. Al-Fajr: 1-2)

“Wa layaalin ‘asr (dan malam yang sepuluh),” kata Imam al-Thabari dalam tafsirnya, “adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli tafsir.”

Ibnu Katsir juga menjelaskan hal yang sama dalam tafsir Qur’anil adhim. “Dan malam-malam yang sepuluh,” tulisnya, “adalah sepuluh (hari pertama) Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.”

2.    Amal pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah paling dicintai Allah

“Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”

(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

3.    Haji dilakukan dalam waktu itu

Keutamaan ketiga dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, bahwa di waktu itulah disyariatkan Ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima.

4.    Di dalamnya ada hari Arafah

Keutamaan keempat dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, pada waktu itu ada hari Arafah, yaitu jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari itu jama’ah haji diwajibkan melakukan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji. Sedangkan bagi umat Islam yang tidak sedang menjalankan ibadah haji disunnah melakukan puasa arafah yang keutamaannya dapat menghapus dosa selama dua tahun.

 Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.”

(HR. Muslim)

5.    Pahala Amal di Hari-hari itu dilipatgandakan

Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk digunakan beribadah sebagaimana halnya hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun dan shalat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan shalat pada malam lailatul qadar.

(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

Tentu saja, ada pengecualian untuk puasa pada tanggal 10 Dzulhijjah karena pada hari itu diharamkan berpuasa.

6.    Keistimewaan membaca tahlil, takbir dan tahmid

Tidak ada hari-ahri yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana hari pertama hingga kesepuluh Dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid.

(HR. Ahmad)

7.    Di dalamnya ada Idul Adha

Keutamaan ketujuh dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, pada akhir waktu itu yaitu tanggal 10 Dzulhijjah adalah Hari raya Idul Adha yang merupakan hari yang sangat istimewa bagi umat Islam.

8.    Di dalamnya disyariatkan ibadah udhiyah (berkurban)

Disyariatkannya ibadah udhiyah. Yaitu menyembelih kurban -baik unta, sapi atau kambing- yang dimulai pada tanggal 10 Dzulhijjah itu.

9.    Disyariatkannya Takbir Muthlaq

Takbir muthlaq (setiap saat) dan muqayyad (setelah shalat fardhu). Kesempatan bertakbir ini jauh lebih panjang daripada Idul Fitri.

Ibnu Taimiyah dalam majmu’ Fatawa menjelaskan, “Hendaklah takbir dilakukan mulai dari waktu fajar hari Arafah sampai akhir hari Tasyriq ( tanggal 11,12,13 Dzulhijjah), dilakukan setiap selesai mengerjakan shalat, dan disyariatkan bagi setiap orang untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika keluar untuk shalat Id. Ini merupakan kesepakatan para imam yang empat”.

10.  Berkumpulnya Induk-induk Ibadah

Sebab inilah yang menjadikan 10 hari pertama bulan Dzhulhijjah begitu istimewa. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”

”BERBAGI ASA, CINTA SESAMA”

”CINTA adalah kalimat yang menyejukan hati

Mampu melintasi batas ruang dan waktu.

CINTA adalah bahasa tanpa kata namun sarat makna

Terlembagakan dalam rasa dan perasaan bathin suci

Yang menebarkan nilai-nilai luhur kasih sayang,

Kesantunan, maaf, kepedulian, toleransi dan

berkah bagi kemanusiaan universal.

CINTA mewujud dalam gelora pengorbanan

Demi terciptanya kemandirian pribadi

dan kemashlahatan ummat secara universal.

Andai bumi ini kering dari CINTA,

niscaya tidak akan lahir kesatria-kesatria agung di jagad raya ini

Dengan CINTA…

Tegaklah sendi-sendi keadilan dan tampaklah kebenaran.

Wajah nyata CINTA ialah perilaku ketaatan,

Kesantunan, kesetiaan dan pengorbanan demi sesuatu yang dicintai..

CINTA melahirkan spirit kehidupan,

Membucahkan  kasih kelembutan, kasih sayang

Keutamaan dan nilai–nilai luhur kehidupan.”

Creative Idea | Founder & Program Director: Andi S. Firdausi (2004-Now)

IT Support Team: Muhammad Jamaludin.

Lirik Puisi: Ghaida & Novia

BUAH SHILATURRAHIM

Posted: 4 Oktober 2012 in Uncategorized

BUAH SHILATURRAHIM

Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Tidak dimungkiri bahwa silaturahim merupakan salah satu perintah Allah SWT yang menjadi pilar bagi terbentuknya masyarakat dan kuat dan sehat.

Silaturahim sendiri mengandung banyak manfaat dan keutamaan, baik bagi penjalin silaturahim, pihak yang disilaturahimi maupun masyarakat luas.

Salah satu buah dari silaturahim adalah terjalinnya persatuan dan kesatuan antar berbagai golongan di masyarakat.

Namun sayang, buah silaturahim yang satu ini terkadang bersifat semu dan tidak nyata dalam kehidupan, karena silaturahim yang dilakukan sebatas pemenuhan kebutuhan bersosialisasi; tidak didasari oleh niat sungguh-sungguh dalam memaknai arti silaturahim; kuatnya ego yang mengganggap diri dan kelompoknya paling benar sedang kelompok lain berada pada pihak yang salah; dan tidak berangkat dari titik yang sama.

Padahal, silaturahim yang membuahkan persatuan dan kesatuan merupakan dambaan setiap orang yang berada di dalam dan di luar area silaturahim, karena baik silaturahim maupun persatuan merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah dan manifestasi berpegang teguh terhadap agama Islam.

Mereka yang ingin senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah dan berpegang teguh terhadap agamanya idealnya memanifestasikan beberapa hal berikut ini dalam kehidupannya:

Pertama, bersikap kasih sayang terhadap sesama Muslim, toleran terhadap non-Muslim dan bersikap keras terhadap orang kafir yang memusuhi Islam. Allah SWT berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan bersikap kasih sayang terhadap sesama mereka.” (QS. Al Fath: 29).

Kedua, mengikuti jalan Islam yang lurus dan menjauh dari jalan bengkok yang menyalahinya. “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikian Dia memerintahkan kepadamu kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153).

Ketiga, merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatan dan diamnya serta mengikhlaskan segala perbuatan karena-Nya. Ikhlas merupakan syarat utama diterimanya ibadah dan ketaatan. Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman melakukan perbuatan semata-mata mengharap ridha-Nya dan bekerja keras atas dasar keimanan kepada-Nya, karena dengan dua modal itu perbuatan manusia menjadi sempurna. (QS. Az-Zumar: 2).

Keempat, siap berjihad dengan jalan mengorbankan diri, jiwa dan harta di jalan Allah dan untuk kepentingan agama-Nya. jihad di sini adalah jihad dalam rangka menegakkan agama Allah, membela kebenaran, membela tanah air, membela masyarakat dan membela tempat tinggal kita. (QS. At-Taubah: 41).

Kelima, siap bekerjasama di pelbagai bidang yang melahirkan kemaslahatan individu, kelompok, masyarakat, bangsa maupun dunia demi merealisasikan kemajuan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)  kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Keenam, turut merasakan kesedihan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh saudara sesama Muslim baik di dalam maupun di luar negeri. Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam sikap saling mencintai, lemah lembut dan kasih sayangnya bagaikan satu anggota badan, apabila satu dari anggotanya menderita sakit, maka anggota yang lain merasakan (pula) sakit dan demam.” (HR. Bukhari-Muslim).

Demikianlah pengingat yang sering terlupa dalam kegiatan silaturahim agar kita senantiasa mewujudkan persatuan dan kesatuan karena di dalamnya terkandung kekuatan, kebahagiaan, kepentingan dan kemuliaan umat Islam. Wallahu a’lam.

[Republika]

Posted with WordPress for BlackBerry.